Minggu, Februari 21, 2010

SOLUSI RUMUS KUBUS RUBIK 3X3

hahaha di kampusQ lagi marak2nya tuh maen rubix ampe di bilang kalo gag bisa nyelesainnya di bilang pecundang ma teman teman hahaha...

dengan segala upaya dan daya akhirnya q bisa juga menyelesaikan rubix ini dengan beberapa rumus hehehehe


dengan google yang selalu ku andalkan berhasil juga...
nih Q mau bagi bagi tipsnya biar gag jadi pecundang kawand hehehe
setiba dirumah gw langsung praktek, tapi sampek sekarang kok kagak bisa-bisa
bagi temen-temen yang lagi pusing atau pengen tahu rumus si rubik 3×3 bisa di baca di sini. rumus ini dari
(STEP: O-P-O-P-O)
Metode yang digunakan disini adalah metode layer by layer (lapisan demi lapisan).
TAHAP 1: SOLVE BOTTOM LAYER (MENYELESAIKAN LAPISAN BAWAH).
TAHAP 2: SOLVE MIDDLE LAYER (MENYELESAIKAN LAPISAN TENGAH).
TAHAP 3: SOLVE UPPER LAYER (MENYELESAIKAN LAPISAN ATAS).
STEP 1: (O)RIENTING EDGE PIECES (MENGORIENTASIKAN BIJI TEPI)
STEP 2: (P)OSITIONING CORNER PIECES (MEMPOSISIKAN BIJI POJOK)
STEP 3: (O)RIENTING CORNER PIECES (MENGORIENTASIKAN BIJI POJOK)
STEP 4: (P)OSITIONING EDGE PIECES (MEMPOSISIKAN BIJI TEPI)
STEP 5: (O)RIENTING CENTER PIECES (MENGORIENTASIKAN BIJI CENTER)
N.B.: STEP 5 ini hanya dipakai pada Kubus Rubik bergambar.
Pembahasan:
Nama-nama biji pada Kubus Rubik:
EDGE PIECES/ CORNER PIECES/ CENTER PIECES/
BIJI TEPI BIJI POJOK BIJI CENTER
TAHAP 1: SOLVE BOTTOM LAYER
-Tidak dibahas disini, karena kami menganggap anda sudah bisa.
TAHAP 2: SOLVE MIDDLE LAYER
-Rumus yang dipakai adalah rumus no. 2
TAHAP 3: SOLVE UPPER LAYER:
STEP 1: ORIENTING EDGE PIECES
-Rumus yang dipakai adalah rumus no. 3
-Pada step ini kita mengorientasikan biji tepi sampai minimal terbentuk +
-Karena membentuk + (cross), maka step ini sering disebut CROSS STEP.
STEP 2: POSITIONING CORNER PIECES
-Rumus yang dipakai adalah rumus no. 4
-Pada step ini kita berusaha memposisikan keempat biji pojok (corner pieces)
agar pada kedudukan/posisi yang tepat tanpa memperhatikan warna. (lihat
gambar dibawah ini):
4
-Tentukan satu biji pojok sebagai titik tolak, lalu susun ketiga biji pojok lainnya
hingga akhirnya pada kedudukan/posisi yang tepat.
STEP 3: ORIENTING CORNER PIECES
-Rumus yang dipakai adalah rumus no. 5
-Pada step ini kita berusaha mengorientasikan biji pojok sehingga warnanya
seragam.
-Sebelum menyeragamkan warna, kita harus berusaha membentuk ikan (fish),
maka step ini sering disebut dengan FISH STEP.
STEP 4: POSITIONING EDGE PIECES
-Rumus yang dipakai adalah rumus no. 6.
-Pada step ini kita memposisikan biji tepi sehingga tepat pada posisinya.
-Untuk kubus rubik 6 warna, step ini adalah step terakhir. (selesai)
SELESAI
STEP 5: ORIENTING CENTER PIECES
-Pada Kubus Rubik 3×3 bergambar, biji center sering kali terbalik-balik.
-Untuk membetulkannya ada Rumus-rumus sbb.:
These two moves rotates two center pieces a quarter turn in opposite directions:
This moves rotates one center piece half a turn:
Keterangan notasi:
‘ : Putaran 90 derajat berlawanan arah jarum jam
‘’: Putaran 180 derajat.
Tidak ada tanda : Putaran 90 derajat searah jarum jam.
Disusun oleh: Teguh Lestari
Untuk           : TL PUZZLE
Pada             : OKT.2008
Bagi yang masih gak mudeng bgaimana cr menyelesaikam rumus rubik. Coba ke alaman http://afila.comxa.com/2009/12/video-how-to-solve-rubiks-3×3/. Di situ ada video menyelesaikan rubik 3×3. Moga aja dngan itu temen2 smw bisa mamainkan rumus rubik.

Jumat, Februari 12, 2010

IndonesiaQ Sayang


di saat carut marutnya  permasalahan di kampusQ.....
terdampar sejuta fitnah meresah....
di saat semua kehilangan arah......
hidup hanya memiliki kebohongan...
ini kah yang di maksud negeriQ
negeri yang memiliki satu bahasa....
bahasa penuh kebohongan....
inilah negeriQ
negeri yang menjunjung satu tujuan
tujuan penuh penindasan....
inilah negeriQ...
negeri yang haus akan kejayaan....
inilah negeriQ
negeri yang haus akan kebohongan....
tolonglah....
tolonglah....
negeri ini menjerit kesakitan
wahai para kaum pergerakan ayo kita rapatkan barisan
mari kita tolong negeri ini dari kebohongan
mari kita sembuhkan penyakit fitnah di negeri ini
sungguh negeri kami subur Tuhan........

Ke mana Pergerakan Mahasiswa hari ini ?

GERAKAN mahasiswa dalam sejarah perubahan peradaban dunia berkali-kali telah menorehkan tinta emasnya. Dimulai pada awal abad ke-12 dengan berdirinya Universitas Bologna di Paris. Saat itu lebih dikenal dengan semboyan ‘Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus” (kita bergembira, selagi masih muda). Pergerakan mahasiswa senantiasa memberikan pencerahan baru dalam setiap sikapnya tak terkecuali di Indonesia, salah satu elemen yang turut membawa negara ini merdeka ialah kaum muda (baca: mahasiswa).

Gerakan pemuda di Indonesia ini dimulai dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Namun, istilah pemuda tersebut mengalami spesialisasi dengan sebutan mahasiswa, sosok yang memiliki kadar intelektual tinggi. Hal ini sah-sah saja karena untuk mengadakan perubahan bangsa tidak cukup dengan semangat ‘muda’ dituntut juga intelektual yang mumpuni dan yang menjadikan nilai lebih mahasiswa adalah gerakan mereka relatif bebas dari berbagai intrik politik. Sebut saja kedudukan, jabatan dan bahkan kekayaan

Peran mahasiswa pada angkatan 66, 74 dan 98 telah memberikan label The Agent of Social Control. Apalagi perjuangan mereka tidak lain adalah penyalur lidah masyarakat yang tertindas pada masa rezim tertentu. Kekuatan moral yang terbangun lebih disebabkan karena mahasiswa yang selalu bergerak secara aktif. Seperti dengan turun ke jalan demi berteriak menuntut keadilan dan pembelaan terhadap hak-hak wong cilik.

Namun seiring perjalanan waktu gerakan mahasiswa akhir-akhir ini seperti kehilangan gregetnya, aksi-aksi penentangan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat tidak lagi mampu mengundang simpati mereka. Bahkan rakyat cenderung beranggapan -- mahasiswa cuma bisa ngomong dan demo melulu. Apalagi ditemukan beberapa kasus demo bayaran. Terlebih dengan ulah mahasiswa pada saat Pilkada di beberapa daerah akhir-akhir
tahun ini. Belum lagi perilaku-perilaku negatif kian marak dibawa sebagian mahasiswa ke dalam lingkungan sekitar kampus, sehingga dengan memukul rata rakyat semakin yakin akan ‘kemunafikan’ mahasiswa.

Faktor-faktor eksternal di atas semakin kompleks dengan permasalahan internal yang dihadapi oleh hampir semua organisasi pergerakan yaitu sepinya kader baru. Kader sebagai SDM organisasi memegang peranan vital menyangkut mati hidupnya organisasi.

Hal ini disebabkan kebijakan pendidikan di Indonesia yang mulai berkiblat pada kapitalisme dan liberalisme. Pembatasan masa studi dan biaya SPP yang membumbung tinggi adalah bukti konkretnya.

Sudah saatnya para aktivis pergerakan mengubah orientasi dengan menegedepankan nuansa gerakan intelektual (intellectual movement) selain gerakan masa dalam menuntaskan cita-cita yang diawali dengan ikrar sumpah pemuda.

Secara hakiki, gerakan mahasiswa adalah gerakan intelektual—jauh dari kekerasan dan daya juang radikalisme. Mengingat, gerakan ini bermuara dari kalangan akademis kampus—cenderung mengedapankan rasionalitas dalam menyikapi perbagai permasalahan. Dalam perspektif penulis, gerakan intelektual (intellectual movement) akan terbangun di atas Trias Tradition (tiga tradisi).

Pertama, terbangun diatas tradisi diskusi (Discussion Tradition). Gerakan mahasiswa harus memperbanyak ruang diskusi—pra-pasca pergerakan. Diskusi akan membawa gerakan mahasiswa menjadi sebuah gerakan rasional dan terpercaya—ciri khas gerakan mahasiswa. Lantaran itu, elemen masyarakat secara umum akan lebih menghargai isu-isu diusung oleh gerakan mahasiswa.

Seperti dalam menurunkan demonstrasi, elemen gerakan mahaiswa harus mengkaji lebih detil—apa, mengapa, akibat dan latar belakang—kebijakan pemerintah harus ditentang. Dari kajian-kajian dalam bentuk diskusi lepas dengan mengundang para pakar dibidang-bidang berkaitan dengan agenda aksi, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan dan analisa cemerlang.

Hari ini, Aktualisasi dan keakuratan data sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam mengkritisi dan bertindak. Sebagaimana kita ketahui zaman semakin maju sehingga dalam mengungkap sesuatu atau menghujam kritik harus berdasar, jelas, akurat dan terpercaya, tanpa itu sulit bagi gerakan mahasiswa dalam menyakinkan rakyat dalam menyalurkan aspirasi.

Kedua, terbangun diatas tradisi menulis (Writing Tradition). Aktivitas menulis merupakan salah satu gerbang menuju tradisi intelektual bagi gerakan mahasiswa. Sejak dulu sampai kini, tokoh dan intelektual bangsa Indonesia—bernotabene mantan tokoh aktivis pemuda dan mahasiswa, banyak melemparkan gagasan atau ide-ide cemerlang, kritikan tajam dan membangun wacana dalam bentuk tulisan.

Sebut saja nama tokoh-tokoh populer seperti, Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir—era pra kemerdekaan; Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Nurcholis Madjid, Deliar Noer, Hariman Siregar, Arief Budiman—era 60 sampai 80-an; Anas Urbaningrum, Eef Saefulloh Fatah, Kamarudin, Andi Rahmat (era 90-an) dan lain-lain.

Bila kita balikkan ke pergerakan mahasiswa, mendukung dan menggalakkan melemparkan isu-isu lewat tulisan perlu perhatian serius. Karena, mewacanakan isu-isu melalui media cetak dapat dibaca oleh kalangan lebih luas—dalam artian lebih efefktif untuk menyebarkan gagasan atau wacana ke seluruh pelosok persada nusantara, bahkan sampai manca negara.

Hal ini bersinergi dengan peran mahasiswa Indonesia, meminjam istilah Michael Fremerey (1976) "Gerakan korektif", selain diorasikan melalui mimbar bebas dalam aksi demonstrasi juga dapat diwujudkan bagi tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa dalam bentuk tulisan di Media Massa.

Lebih jauh, dalam buku Bergerak! (Peran Pers Mahasiswa dalam Penumbangan Rezim Soeharto) Satrio Arimunandar mengemukakan bahwa gerakan mahasiswa di Indonesia tak bisa lepas dari dukungan penuh media massa untuk menggapai hasil maksimum dalam perjuangan. Sebagai misal, momentum penurunan rezim Orde Lama (ORLA), gerakan mahasiswa di dukung koran mahasiswa populer "Mahasiswa Indonesia" atau ketika gerakan mahasiswa menurunkan rezim Orde Baru (ORBA) di dukung penuh Buletin Bergerak (Media Aksi Mahasiswa UI), dalam menyebarkan seputar agenda atau wacana gerakan mahasiswa. Hal ini penting, untuk membangkitkan naluri mahasiswa dalam perjuangan menumpas kezhaliman dan kebatilan.

Angin segar bagi pergerakan mahasiswa, akhir-akhir ini tulisan-tulisan tokoh-tokoh pergerakan mahasiswa (Ketua Umum Organisasi Kemahasiswaan atau Pemuda, Presiden Mahasiswa Universitas dan lain-lain) pernah menghiasi media massa, seperti Ubaidillah (Mantan Ketum PMII Cab. Ciputat) “Menuju Pemilu 2004 ” - Majalah UIN 24 pebruari 2004; Mamanto Fani (Ketua Umum KAMMI Daerah Sumbar 03-05) 'Mahasiswa Aceh Kembalilah'—24 februari 2005;

Selain itu, Yuli Widy Astono (Ketua Umum KAMMI Pusat 2005-2007) 'Nasionalisme Indonesia (Tawaran Membangun Trend Baru Gerakan Mahasiswa)'—majalah SAKSI 12 Oktober 2005; Azman Muammar (Ketua Umum BEM UI 2005-2006) 'Demokrasi Diambang Batas'—majalah SAKSI 28 September 2005; Irwan Suwandi SN (Presiden Mahasiswa UNAND) 'Orang Miskin Dilarang Sekolah'—Majalah SAKSI edisi Februari 2006; dan lain-lain.

Menyikapi tulisan-tulisan diatas, penulis berani berspekulasi bahwa tulisan-tulisan para tokoh aktivis pergerakan mahasiswa (Ketua Umum Organisasi Kemahasiswaan atau Pemuda, Presiden Mahasiswa dan lain-lain) tersebut sangat berarti dan berpengaruh bahkan bisa menjadi acuan bagi pergerakan mahasiswa Indonesia.

Ketiga, terbangun diatas tradisi membaca (Reading Tradition). Aktualisasi isu sangat penting bagi gerakan mahasiswa dalam bergerak. Begitu cepat pergeseran berita dan opini publik, memaksa kita untuk senantiasa membaca—kalau tidak akan tertinggal. Kesibukan bukan alasan tepat untuk tidak membaca, di mana atau kapan pun bisa kita luang waktu untuk membaca—antri mengambil karcis, di bus, menjelang demonstrasi dan lain-lain.

Sebuah harapan, gerakan mahasiswa juga bisa mewacanakan semacam 'Gerakan Gemar Membaca" dan disosialisasikan secara luas. Cara ini, dapat menunjukkan gerakan mahasiswa ikut membantu pemerintah dalam membuka kunci gembok kebodohan serta berperan menyelesaikan problem pendidikan Indonesia nyaris tak kunjung terselesaikan ini.

Dari berbagai permasalahan yang dihadapi dunia pergerakan, mahasiswa dengan pergerakannya perlu mengubah paradigma perjuangannya untuk tetap bisa eksis sehingga rakyat kembali menaruh kepercayaan.

Tema-tema perjuangan dan gerakan moralitas, pencerdasan kaum pinggiran, pengentasan kemiskinan serta isu-isu sosial lainnya akan lebih terasa dampak manfaatnya terhadap masyarakat kita. Jika selama ini sumbangsih pergerakan mahasiswa sebatas usulan, demo dan pengontrol maka ke depannya dituntut sebagai pelaku dan bahkan mungkin penentu.

Namun perubahan paradigma dunia pergerakan mahasiswa hendaknya tidak mengurangi fungsinya sebagai The Agent of Social Control serta motor penggerak pembaharu yang tetap peduli dan berpihak kepada masyarakat bawah karena sampai kapan pun mahasiswa dengan semangat mudanya akan tetap memegang peranan penting dalam mengontrol kebijakan-kebijakan publik agar tetap memikirkan akar rumput dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Salam perjuangan...

HIDUP MAHASISWA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!