Senin, November 27, 2017

Retakan Padang Pasir Eps 2

....

Ketika Terbangun dari mimpi yang terasa panjang itu
sedikit ku haturkan rasa syukurku pada sang maestro kehidupan
yang sedikit mengobati rasa perih di hati
yang menutup dalam kenangan pahit masa lalu

Memperhatikan sekali diri ini
sama dengan kacau balaunya dunia saat ini
ketika cahaya pagi mulai merekah
mulai terasa juga ribuan jarum mengulitiku
sakit ini tak pernah pergi bersemayam dalam kalbu

Sudah bertahun-tahun ku rasakan perih tak berkesudahan ini
berharap kelak akan datang sesosok insan yang menemaniku bersama
melewati terjal bebatuan di setapak kehidupan
ku menantimu dalam angan tak berbatas
doaku untumu sosok yang tak sempurna

Rindu ini ku kirimkan kepadamu yang selalu di hatiku
tapi tak terjamahkan dalam pandangku
kamu yang entah tersesat dimana
suatu saat akan kutemukan dan kutuntun kembali bersama
melewati padang pasir menuju negeri yang jauh di langit

Kurasa waktu terus saja menggerogotiku perlahan
namun ku tetap berpegang teguh pada janjimu padaku
biarkan saja rasa sakit ini menjadi kenangan manis
antara kau aku dan dia
dalam panjangnya perjuanganku mencari keridhoanmu

Jumat, November 17, 2017

Kesendirian



Engkau pencipta segalanya
Yang menciptakan dengan segala kemanfaatannya
Penuh makna jauh dari ke sia-siaan
Tak terjamah namun mampu di rasa
Indah bersamamu dalam Panjangnya kehidupan.

Kebohongan dunia sangat pekat terasa
Mencoba mengalihkan segala pandangan
Menari-nari semu dalam segala kenikmatan
Yang mungkin hilang berbalut penyesalan

Dunia akhir zaman ini sungguh sangat kejam
Merobohkan setetes embun iman dalam setiap insan
Pemimipin kami yang akhirnya saling tikam antar sesama
Yang mabuk terhadap arak dunia terlupalah setiap inci kewajiban
Melupakan segala pesan-pesan sang baginda  

Kami manusia akhir zaman semakin teraduk-aduk dalam pekatnya dunia
mencoba berlindung kepadamu wahai pencipta yang masih terasa di hati kecil kami
dan berpegang teguh terhadap segala nasihat-nasihat sang baginda
yang tak banyak tersisa di hamparan dunia ini

ku akan berjalan dalam malam yang dingin
menerobos kabut ditemani tetesan embun-embun air di dedaunan
ku akan mendekat walau berat walau terasa jauh
sebagai rasa takutku jika kau tinggalkan aku sendiri
dan sebagai rasa cintaku kepadamu yang tak berbatas waktu


Fahmi Fadillah
@luppiespy






Kamis, November 09, 2017

Retakan Pedang Eps 01


Assalamualaikum Wr Wb
Pertama Saya ucapkan syukur yang begitu besar kepada Rabb yang maha pengasih lagi penyayang
coretan ini dibuat hanya untuk melampiaskan kesedihan seorang pemuda akhir zaman yang telah lama memendam rindu yang serasa terbawa mati terpahat dalam hati setiap insan
artikel ini semata hanya berdasarkan dari sudut pandang sang penulis,mohon maaf atas segala khilaf dan kesalahan yang sebetulnya datang dari diri penulis dan kebenaran hanya milik ALLAH SWT


~~~ Retakan Pedang ~~~

Perkenalkan aku seorang laki-laki yang terlahir pada penghujung zaman, sedikit ku cerita kesedihan yang telah dirasakan dalam waktu yang sangat lama. mari kita runutkan kisah-kisah tentang cahaya yang hilang di akhir zaman.

Pernah sewaktu malam ku bermimpi dan mimpi ini terasa sangat panjang yang padahal itu terjadi hanya dalam semalam, dalam mimpi itu ku terbangun dan berada dalam sebuah rumah dari timbunan batu2 besar namun tidak sama satu dengan lainnya, tiba tiba lelaki besar memasuki rumah tempat ku terbangun dan menyeru
"Wahai kaum muslimin angkat senjatamu persiapkan kendaraanmu seruan ALLAH SWT telah datang kepadamu bersiaplah bersiaplah.........."
sontak ku kaget dan bergerak dengan sendirinya mencari sesuatu yang ternyata terletak di sudut bangunan ini.. ya sebuah pedang tajam tanpa sarung segera ku ambil pedang itu dan bergerak menuju keluar tandu dan langsung saja pasir memasuki mataku hingga terasa perih. teriknya saat itu betul-betul menghipnotisku membuat semua skema ini seperti nyata adanya...mari berperang wahai saudaraku mari berperang di jalan Allah suara yang cepat melintasi kuping kananku terlihat sekawanan manusia menendarai kuda dan onta berlari ke suatu tempat perkumpulanternyata ini adalah seruan perang, aku yang sebenarnya tidak menyukai perang sempat mengurungkan niat untuk ikut bergabung tiba-tiba terdengar suara orang melafalkan teks dengan keras entah dari mana

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

ya tidak salah lagi suara itu berasal dari sebuah bangunan yang terlihat agak sedikit lebih besar dari yang lainnya dan ini juga adalah kepingan suara tuhan yang terukir indah dalam bukunya yang bercahaya dalam sejarah panjang manusia. membuat hatiku semakin mantap untuk mengikuti seruan seruan itu, ku lihat di sebelah kanan ada seekor onta yang telah di persenjatai, langsung saja ku kendarai onta itu, yang benar saja menyentuh onta saja ku tak pernah mengapa ku mempunyai kemampuan mengendarai onta dan bergerak dengan gesit bagai pahlawan profesional, dan aku masih tidak tersadar jika ini hanyalah mimpi

bergerak dengan cepat ku menuju tempat perkumpulan itu ada sosok yang begitu bercahaya memimpin pasukan yang berjumlah kurang lebih 200 orang ini ketika ku coba mendekat seseorang berkata kepadaku "rapatkan barisan, rapatkan barisan, kami yang akan menjaganya tetap rapatkan barisanmu wahai kaum muslimin" belum sempat ku menjawabnya dia langsung meninggalkanku dalam barisan terbelakang dengan kuda perkasanya.

suara angin berbarengan dengan pasir perlahan melewati dalam sela2 kulitku, ku lihat semua barisan ini ada yang wajahnya bercahaya ada yang berbau harum dan hanya wajah dan bauku saja yang tidak bercahaya dan berbau harum menggambarkan jelas bahwa ku bukanlah bagian dalam kisah ini, bergerak barisan ini berlari menuju arah depan namun dalam pandangku hanya ada pasir yang berterbaran diterbangkan angin di bagian depan siapa yang ingin kita hadapi tanyaku dalam hati , dalam cepat nya kuda dan onta berlari terlihat pula pedang-pedang yang sebelumnya tajam mengkilat kini  semakin retak kemudian hancur berkeping-keping dan satu persatu mereka telah jatuh seakan telah di tikam entah dari mana suara-suara teriakan semakin memekakkan telinga lalu  terdengar teriakan dari depan

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)"

dan ku tersentak terbangun pukul 04.40 suara adzan berkumandang ku usap mataku sebelah kanan rasa sedihku segera terasa saat ku tersadar siapa sosok yang bercahaya itu namun ku lewatkan kesempatanku meraih dan menggapainya.
dalam mimpiku ku sadar bahwa musuh-musuh kami di akhir zaman ini sama seperti angin yang tak terlihat namun dapat merobohkan pasukan yang begitu banyak. mengapa saat ini kita mudah untuk di robohkan karena mungkin saja kita telah bercerai berai dan saling menyalahkan satu dengan yang lainnya


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Kaum Yahudi telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) golongan atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan kaum Nasrani telah terpecah menjadi tujuh puluh satu (71) atau tujuh puluh dua (72) golongan, dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga (73) golongan.


mimpi ini hanyalah sebuah intermezo dari sebuah cerita panjang yang akan di ceritakan satu persatu, yang mungkin telah dialami oleh semua manusia akhir zaman

ketawa sedikit dulu biar nda tegang
hehehehe


Wassalamualaikum Wr, Wb
IG : luppiespy

Senin, Oktober 30, 2017

Aku




Aku....
Adalah manusia akhir jaman...
yang hidup dalam retorika dalam kelam...
yang percaya dalam pada sebuah titik kecil harapan...
inilah aku dengan sedikit kisahnya

Aku...
adalah anak keturunan bani adam yang hidup di akhir penghidupan
sekarang umurku sudah semakin matang  26 tahun kata orang-orang.
dalam kewajaran jika teman sejawat seumuran berbicara tentang pasangan sehidup semati
berbicara tentang pernikahan atau memiliki keturunan
namun itu semua tak bisa padamkan rasa resah dan gundah di hatiku....
bukan itu jawabnya.

Aku....
yang hidup di dunia modern tak berbatas
ramai penuh semarak ibarat manusia yang telah menyerupai koloni para semut
berjalan bersenang-senang, tertawa bersama dalam hari-hari yang cepat berganti berlalu
namun kesenangan itu tak bisa padamkan resah dan gundah di hatiku...
tak ku temukan lagi jawabannya

Aku....
yang hidup dalam sosialita tingkat teri
dimana manusia di sekitar membicarakan tentang pekerjaan
uang yang mengalir tanpa henti, kesuksesan yang tiada tara
bahkan timbunan harta yang tak habis dimakan zaman
namun uang kesuksesan bahkan pekerjaan masih tak bisa menjawab rasa yang muncul di hati


Mau taukah kah engkau apa yang ku telah kurasakan ?
kadang rasa itu bisa begitu sakit
bisa juga terasa sangat menyedihkan
atau berubah nestapa tak berasal.

ini adalah kehidupan gelap yang telah jauh dari cahaya
dimana mata pun tak mampu memutuskan baik dan buruknya sebuah kisah
atau telinga yang tak mengetahui suara yang baik dan jahat
bahkan mulut yang mudah terpancing dalam kebohongan semu....
apa kesalahanku.....

kutuliskan kisahku ini agar kelak dapat kubaca lagi suatu saat nanti
ketika malam yang mencoba berubah menjadi terang pagi
terhiaskan suara ayam yang memecah kesunyian
dalam langkah kakiku dari rumah yang paling dicintai dia sang pembawa pesan.

dalam hati yang penuh rasa iri ini ku berharap
dapat bertemu dengannya walau kepribadianku tak pantas untuknya
kau tinggalkan kami dalam gelapnya dunia akhir zaman
kau pergi meninggalkan kami wahai cahaya terang

seandainya Allah mengabulkan jawaban doaku pagi ini.
mungkin pergantian malam menuju pagi ini akan menjadi sangat hangat dan menyenangkan
akan ramai langkah kaki menemani bunyi langkah kakiku pagi ini
senyum dan canda tanpa kepalsuan akan hadir dalam hari-hariku
mungkin kita bisa hidup bersama sehangat keluarga yang hakiki
mungkin ku dapat belajar darimu semua tentang kesuksesan yang sejati
dan mungkin aku menjadi orang paling beruntung yang hidup di dunia

Aku...
adalah debu-debu alam semesta
yang terombang ambing kerasnya alam
berharap yang ku lalui telah benar adanya

Aku...
Manusia lemah yang mencoba memperbaiki dunia
yang telah sakit dalam pertambahan zaman

Aku..
Pengagummu dari dunia akhir zaman


ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَانِ، مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.
“Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu (1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. (2) Apabila ia mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. (3) Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagai-mana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” [3]

Tulisan ini dibuat untuk menjadi pengingat dan di buat apa adanya tanpa suntingan dan editan
dibuat berdasarkan kondisi hati pagi ini


Luppiespy






Jumat, Oktober 06, 2017

Lambaian Tangan

Senyuman bias pelangi hari ini seakan menuliskan kisah yang begitu berkepanjangan. Langkah kaki ini lebih berat dari biasa, campurkan rasa bahagia dan kekecewaan berputar beresonansi bermain dalam ruang hati. Aktifitas padatku hari ini sedikit bewarna labil tak menentu. Tak sadar untuk kesekian kalinya diri ini berkomunikasi mencoba menenangkan diri.

Selesailah sudah ku tinggalkan segala nya, berlariku bergegas perlahan menyembuhkan hati yang tak menentu kabarnya . Ku pandangi langit biru berawan mengingatkan ku akan reuni kepahitan masa lalu, tak mampu ku halau dejavu kenangan ini. Perih bersahabat dengan rasa syukur penuh keikhlasan, ku haturkan harapanku selalu dalam jarak ku mendekatimu secara perlahan.

Ku kendarai burung mendekatimu dari angkasa biru keputihan, bernostalgia sepanjang angin berhembus yang terkadang membuatku tertawa menyoroti kebodohan dan keluguanmu, Terkadang hati ini menyesal berharap masa lampau dimana diriku bisa lebih egois mencoba hilangkan rasa takutku akan keterbatasanku.

Haha…..
Bukan aku jika lari dari kenyataan dan bukanlah diriku jika bersikap egois  searah tanpa memikirkan perasaan dalam jiwamu.  Sebut saja diri ini pengecut, lebih membuat jiwa ini tenang berbanding melihatmu menangis tak berujung. Beginilah garisanku telah di lukiskan pencipta, ku terima ikhlas walau yang dulu berbuah manis akan berakhir dalam cerita kepahitan,

Kudaratkan jiwa melangkahkan kaki ini perlahan sampai tak terdengar detak sepatu hitam mengkilatku,  Kuraih jas dari tas hitam yang kugunakan perlahan berjalan melewati aspal panas hingga ku temukan keramaian yang pecahkan hening  dalam panasnya siang menyambar kulit. Tak berani ku terobos lebih jauh segera ku hentikan langkahku setelah terpapar keberadaanmu ..tersentak ku tertawa teringat memori tentang parasmu bagai badut ibu kota yang berjalan mencoba untuk menghibur masyarakat kelas bawah. Benar-benar lelucon klasik yang coba ku singgahkan permanen dalam memori ini, Terobati sudah hati terlarut dalam kebahagiaan. Matahari kini tersipu malu sembunyi dalam selimutnya ku lambaikan tanganku menandakan akhir dalam penantian panjangku, melihat jiwa itu bahagia dengan cara yang berbeda, dan ku sarungkan kembali tanganku menandakan perpisahan kita telah tiba. Akan ku coba sebisa mungkin mengawasimu dalam bayang- bayang gelap.
Dalam kisah perjalanan yang luar biasa ini, mungkin ini dejavu terakhir yang harus kurasakan dalam cerita kehidupan di dunia sebelum ku kembali ke dunia yang sebenar-benarnya, dalam lamunanku mengingat memori dulu, badanku tersentak keras terbang kedepan, lemas mencoba melihat kebelakang ada sosok wanita berkacamata mendekatiku mungkin mencoba tunjukan rasa tanggung jawab akan perlakuannya kepadaku, kemudian dia menangis keras membuat prasangka yang tidak-tidak saat itu.


Astaga
Bepuluhtahun yang lalu kau pertemukan ku dengan gadis  kelaparan dalam kehidupan yang keras begitupula kau pertemukanku dengan gadis berparas kembar penuh teka teki yang hampir merengut nyawaku yang belum siap untuk pulang, kembali kau pertemukanku dengan gadis lugu kesepian tak punya arah yang mencoba terlihat kuat namun dipenuhi kerapuhan.
Sekarang kau pertemukanku dengan gadis yang menangis keras setalah menabrakan dirinya padaku seakan dirinya yang teraniaya, tertegun diriku sepertinya masih banyak cerita yang akan datang dalam perjalanan hingga hayat menjemputku.

"Mengingatmu yang selalu menemani kebodohanku
Mengingatmu yang selalu sabar dengan kemunafikanku
Terimakasih Kuucapkan
Dan ku akhiri
Semoga bahagia"




We love this scene





Sabtu, Agustus 26, 2017

Yang Dinantikan


Bila hari ini ku terus menunggu
percayalah berakhir beriring waktu
walau beban rindu seakan menusuk kalbu
biarkanlah terkubur dalam dan membisu.

Tersenyum walau hati terasa peluh
ucapkan bahagia selalu untukmu
berhentiku berharap dalam desir hujan
biarkanlah terkubur semakin dalam dan pilu

Hari cerah yang menyinari hati
yang terbiasa cemas
menghitung mundur detik agar berlalu
September ceria untuk hidupku dan hidupmu
biarkanlah hidup dalam kenangan keabadian

Kuucapkan bahagia selamanya untukmu
mungkin takdir kita takkan menyatu
jangan kau palingkan wajahmu berbalik pilu
biarkankan ku pergi jauh darimu...

Hujan dan Angin bawalah aku ketempat yang jauh
mungkin saja lebih baik
dari langkah kaki yang telah hilang
tersapu angin,,,






Kamis, Agustus 10, 2017

Sahabat yang hilang


wahai sahabat yang tak henti tuk berjalan bersama...
yang selalu mengurangi perih goresan luka...
yang setia menemani dalam kekalahan berkepanjangan...
gundukan rintang kehidupan kian kuatkan ikatan ini...
hingga akhirnya perlahan semakin buruk penuh kejanggalan
memaksa kita harus berpisah untuk kebaikan bersama
bukan karena arti persahabatan ini palsu semata
sebalik darinya kita coba hargai sebutir pasir dalam sebuah ikatan

aku lah sang kambing hitam dari gelapnya peristiwa silam
aktor terjahat dalam cerita pemain  romansa opera
tertuduh kemudian terduga dan hilang dalam akhir cerita
lenyap dalam senyap menyisakan sepercik kepercayaan
kepercayaan ini tak akan tersapu layaknya debu
berharap waktu buatmu mengerti dari hujaman praduga kejam
kepadaku....

bertahun sudah pena ini menulis layaknya bercerita
atas hilangnya dirimu sahabat dalam panjang kisah kehidupan ini
menghabiskan tinta memaksa tuk membuka lembaran baru...
terus berulang tanpa henti yang tak berujung
berakhir ketika mungkin hari ini ku kembali menemukanmu

mungkin saja kau mengerti
mungkin rasa kecewa masih memenuhi ruang relung dihatimu
aku hanya berharap semua baik-baik saja
walau dengan hanya mengintip sedikit lembar kehidupanmu
dapat buat diri lebih tenang dari biasanya

sahabat
ijinkan aku jadi bayangan dalam sudut ruang
di dalam kehidupanmu
di dalam jiwamu