Senin, April 03, 2017

Berlutut Pada Jarak

Terik Matahari Membakar Langkah Perlahan...
Tatapan yang Tertatih menatap Raja Panas alam Semesta....
Seberapa jauh Jarak memisahkan kita wahai raja....
Walau Terasa Jauh...
tetap terasa jiwa yang terbakar oleh sang raja...
mengapa kau tak berlutut Pada jarak...
atau akukah yang mulai lemah berpacu
dalam keputusasaan....

Hembusan Angin Lancar berlayar
mengaliri lapisan perasa yang tipis
menemani jiwa yang terkadang terperangkap kaku dalam renungan...
Dimana kau wahai angin yang samar tak terlihat mata...
mengapa kau yang tak terekam masih menyejukan hati ini
menghempaskan jarak yang jauh.
enggan berlutut seolah menertawakan sang jarak....
atau akukah yang mulai hilang rasa
melupakan segala kenangan membuatnya terkubur
dalam jarak yang tak berbatas...

bukan menggambarkan bukti bahwa manusia itu lemah
bukan melukiskan kerapuhan sang khalifah dunia
hanya menjelaskan besarnya tekanan...
melahap perlahan rasa percaya
menebar rasa takut akan waktu
dan perlahan lupa dan hilang selamanya....

mungkin saja hatimu begitu..
Tapi ku berharap kau berdiri tegak sekokoh surya semesta
pancarkan pesona tak berbatas
dan bertahan walau tak terlihat
meski perih tak tertahan
ikhlasmulah yang berbekas dalam waktu


akan selalu ada senyumanku di seberang jalan..



Terinspirasi dari hukum kepler 1-3
dan beberapa peristiwa nyata tentang jarak dan waktu

#berhujan harap
#chapter 22

    Choose :
  • OR
  • To comment